Bagaimana mungkin, aku tak dapat melukiskan keteduhan dirimu
Lembut tutur katamu dan penuh makna
kukuh sifat dan berprinsip, jauh memandang masa datang
Ketabahan hatimu membesarkan diriku
Rendah hati, sabar, dan ajarkan logika
Kau biarkanku tuk jadi pribadi matang dan tak takut tantangan
Kau semakin tambun, dan bergurat-gurat wajahmu
Terlihat lelah tapi tetap tegar arungi keharusan waktu
Perlahan pasti, memutih rambut indahmu
Tapi belaimu mampu tawarkan segala sedih dan risauku
Yakinkanku akan kemenangan besar yang selalu menunggu
Entah sudah berapa kali ku coba mencari imitasi dirimu
Kau ajarkan aku hikmah di balik peristiwa
Kau sirami aku dengan petuah tetua
Digelap kehidupan kau berikan cahaya
Hidup bukan materi dan pujaan belaka
Karena kematian akan ajarkan keabadian dan sungguh nyata
Kau seakan tak lekang oleh masa
Aku tak tahu jika kau tiada
Kemana musti ku cari petuah itu
Ataukah angin kehidupan musti hempaskanku
Siapakah yang akan menina bobokan agresiku
Siapakah yang berikan air kehidupan atas dahaga
Siapakan yang berikan damai saat aku musti menangis
Ibu kaulah puisi terindahku
Abadi sepanjang sejarah kemanuisaanku
Aku mencintaimu seperti aku inginkan surga
Aku merindukanmu seperti dahagaku di gurun
Seperti kerinduanku pada pagi
Atau seperti inginku pada malam tuk baringkan lelahku
Ditepi sore saat kegilaan materi memojokan semua nuraniku
Sang Pemberontak
Senin, 29 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar