Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin….
Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,“Bagaimana perjalanan tadi?”“Sungguh luar biasa, Pa.”“Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah.“Iya, Pa,” jawabnya.“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi.Si anak menjawab, “Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.
Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan,”Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.”
Selasa, 30 September 2008
dengan tantangan anda akan lebih bergairah
Nelayan Jepang
Orang Jepang sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan yang dekat dengan Jepang dalam beberapa dekade ini. Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil tangkapan itu ke daratan. Jika perjalanan pulang mencapai beberapa hari, ikan tersebut tidak segar lagi. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perikanan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut.
Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dan lama. Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan segar dan beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku harganya menjadi lebih murah. Sehingga perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpan ikan di kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung menjejalkannya ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan. Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas, tetapi tetap hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa ikan segarnya. Orang Jepang menghendaki rasa ikan segar yang lincah, bukan ikan yang lemas.
Bagaimanakan perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini? Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar ke Jepang?
Jika anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang anda rekomendasikan?
Begitu anda mencapai tujuan-tujuan anda, seperti mendapatkan jodoh - memulai perusahaan yang sukses - membayar hutang-hutang anda - atau apapun, anda dapat kehilangan gairah anda. Anda tidak perlu bekerja demikian keras sehingga anda bersantai. Anda mengalami masalah yang sama dengan para pemenang lotere yang menghabiskan uang mereka, pewaris kekayaan yang tidak pernah tumbuh dewasa, dan para ibu rumah tangga jemu yang kecanduan obat-obatan resep.
Seperti masalah ikan di Jepang tadi, solusi terbaiknya sederhana. Hal ini diamati oleh L. Ron Hubbard di awal 1950-an. “Orang berkembang, anehnya, hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang” -L. Ron Hubbard.
Keuntungan dari sebuah Tantangan:
Semakin cerdas, tabah dan kompeten diri anda, semakin anda menikmati masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan anda terus menaklukan tantangan tersebut, anda akan bahagia. Anda akan memikirkan tantangan- tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda tertarik untuk mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!
Bagaimana Ikan Jepang Tetap Segar?
Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini mereka memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi yang sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang.
Renungan :
Jangan menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah. Nikmatilah permainannya.
Jika tantangan anda terlalu besar atau terlalu banyak, jangan menyerah. Kegagalan jangan membuat anda lelah, sebaliknya, atur kembali strategi. Temukanlah lebih banyak keteguhan, pengetahuan, dan bantuan.
Jika anda telah mencapai tujuan anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi. Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga anda terpenuhi, berpindahlah ke tujuan untuk kelompok anda, masyarakat, bahkan umat manusia.
Jangan ciptakan kesuksesan dan tidur di dalamnya. Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk membuat perubahan.Jadi, masukkanlah seekor ikan hiu di tangki anda dan lihat berapa jauh yang dapat anda lakukan dan capai !
Orang Jepang sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan yang dekat dengan Jepang dalam beberapa dekade ini. Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil tangkapan itu ke daratan. Jika perjalanan pulang mencapai beberapa hari, ikan tersebut tidak segar lagi. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perikanan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut.
Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dan lama. Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan segar dan beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku harganya menjadi lebih murah. Sehingga perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpan ikan di kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung menjejalkannya ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan. Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas, tetapi tetap hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa ikan segarnya. Orang Jepang menghendaki rasa ikan segar yang lincah, bukan ikan yang lemas.
Bagaimanakan perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini? Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar ke Jepang?
Jika anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang anda rekomendasikan?
Begitu anda mencapai tujuan-tujuan anda, seperti mendapatkan jodoh - memulai perusahaan yang sukses - membayar hutang-hutang anda - atau apapun, anda dapat kehilangan gairah anda. Anda tidak perlu bekerja demikian keras sehingga anda bersantai. Anda mengalami masalah yang sama dengan para pemenang lotere yang menghabiskan uang mereka, pewaris kekayaan yang tidak pernah tumbuh dewasa, dan para ibu rumah tangga jemu yang kecanduan obat-obatan resep.
Seperti masalah ikan di Jepang tadi, solusi terbaiknya sederhana. Hal ini diamati oleh L. Ron Hubbard di awal 1950-an. “Orang berkembang, anehnya, hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang” -L. Ron Hubbard.
Keuntungan dari sebuah Tantangan:
Semakin cerdas, tabah dan kompeten diri anda, semakin anda menikmati masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan anda terus menaklukan tantangan tersebut, anda akan bahagia. Anda akan memikirkan tantangan- tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda tertarik untuk mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!
Bagaimana Ikan Jepang Tetap Segar?
Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini mereka memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi yang sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang.
Renungan :
Jangan menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah. Nikmatilah permainannya.
Jika tantangan anda terlalu besar atau terlalu banyak, jangan menyerah. Kegagalan jangan membuat anda lelah, sebaliknya, atur kembali strategi. Temukanlah lebih banyak keteguhan, pengetahuan, dan bantuan.
Jika anda telah mencapai tujuan anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi. Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga anda terpenuhi, berpindahlah ke tujuan untuk kelompok anda, masyarakat, bahkan umat manusia.
Jangan ciptakan kesuksesan dan tidur di dalamnya. Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk membuat perubahan.Jadi, masukkanlah seekor ikan hiu di tangki anda dan lihat berapa jauh yang dapat anda lakukan dan capai !
Tuhan menjawab dengan caranya…
Tuhan menjawab dengan caranya…
Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi. Karena salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: “Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.
Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: “Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”
“Tidak Bi”, jawab anak itu, “Tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”
Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya. Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA.
Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi. Karena salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: “Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.
Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: “Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”
“Tidak Bi”, jawab anak itu, “Tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”
Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya. Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA.
Senin, 29 September 2008
reuni teman seperjuangan
Malam ke 21 ramadhan, tiba tiba saja melempar emosi kami ke 15 tahun ke belakang. Saat kami masih jadi anak ayam yang begitu bodoh dengan menelan semua saja dari buku yang sedang trend atau senior yang jadi panutan kami, bahkan yang paling gila pada waktu diakui atau tidak kamu begitu menginginkan struktur….hehehhehehehehehee. Dari pemikiran karl mark, ahmad wahib, nurcholis majid, Samuel Huntington, Sukarno, netchze ataupun iqbal dan pemikiran lainnya.
Malam itu makin larut dan akhirnya kilas balik itu terhenti pada pertanyaan. Apa yang telah kita perbuat dulu ternyata masih kurang besar, sementara perubahan tuntutan modernitas dan pragmatis telah melingkupi kita. Dan jawabanya adalah kita musti menjadi “bodoh” kembali: yaitu ikuti aja prinsip Islam menurut pemahaman kita sambil menunggu mati. Moga aja ini jalan yang benar menurut-Nya. amin
Malam itu makin larut dan akhirnya kilas balik itu terhenti pada pertanyaan. Apa yang telah kita perbuat dulu ternyata masih kurang besar, sementara perubahan tuntutan modernitas dan pragmatis telah melingkupi kita. Dan jawabanya adalah kita musti menjadi “bodoh” kembali: yaitu ikuti aja prinsip Islam menurut pemahaman kita sambil menunggu mati. Moga aja ini jalan yang benar menurut-Nya. amin
Akulah Cahaya Matamu
Bagaimana mungkin, aku tak dapat melukiskan keteduhan dirimu
Lembut tutur katamu dan penuh makna
kukuh sifat dan berprinsip, jauh memandang masa datang
Ketabahan hatimu membesarkan diriku
Rendah hati, sabar, dan ajarkan logika
Kau biarkanku tuk jadi pribadi matang dan tak takut tantangan
Kau semakin tambun, dan bergurat-gurat wajahmu
Terlihat lelah tapi tetap tegar arungi keharusan waktu
Perlahan pasti, memutih rambut indahmu
Tapi belaimu mampu tawarkan segala sedih dan risauku
Yakinkanku akan kemenangan besar yang selalu menunggu
Entah sudah berapa kali ku coba mencari imitasi dirimu
Kau ajarkan aku hikmah di balik peristiwa
Kau sirami aku dengan petuah tetua
Digelap kehidupan kau berikan cahaya
Hidup bukan materi dan pujaan belaka
Karena kematian akan ajarkan keabadian dan sungguh nyata
Kau seakan tak lekang oleh masa
Aku tak tahu jika kau tiada
Kemana musti ku cari petuah itu
Ataukah angin kehidupan musti hempaskanku
Siapakah yang akan menina bobokan agresiku
Siapakah yang berikan air kehidupan atas dahaga
Siapakan yang berikan damai saat aku musti menangis
Ibu kaulah puisi terindahku
Abadi sepanjang sejarah kemanuisaanku
Aku mencintaimu seperti aku inginkan surga
Aku merindukanmu seperti dahagaku di gurun
Seperti kerinduanku pada pagi
Atau seperti inginku pada malam tuk baringkan lelahku
Ditepi sore saat kegilaan materi memojokan semua nuraniku
Sang Pemberontak
Lembut tutur katamu dan penuh makna
kukuh sifat dan berprinsip, jauh memandang masa datang
Ketabahan hatimu membesarkan diriku
Rendah hati, sabar, dan ajarkan logika
Kau biarkanku tuk jadi pribadi matang dan tak takut tantangan
Kau semakin tambun, dan bergurat-gurat wajahmu
Terlihat lelah tapi tetap tegar arungi keharusan waktu
Perlahan pasti, memutih rambut indahmu
Tapi belaimu mampu tawarkan segala sedih dan risauku
Yakinkanku akan kemenangan besar yang selalu menunggu
Entah sudah berapa kali ku coba mencari imitasi dirimu
Kau ajarkan aku hikmah di balik peristiwa
Kau sirami aku dengan petuah tetua
Digelap kehidupan kau berikan cahaya
Hidup bukan materi dan pujaan belaka
Karena kematian akan ajarkan keabadian dan sungguh nyata
Kau seakan tak lekang oleh masa
Aku tak tahu jika kau tiada
Kemana musti ku cari petuah itu
Ataukah angin kehidupan musti hempaskanku
Siapakah yang akan menina bobokan agresiku
Siapakah yang berikan air kehidupan atas dahaga
Siapakan yang berikan damai saat aku musti menangis
Ibu kaulah puisi terindahku
Abadi sepanjang sejarah kemanuisaanku
Aku mencintaimu seperti aku inginkan surga
Aku merindukanmu seperti dahagaku di gurun
Seperti kerinduanku pada pagi
Atau seperti inginku pada malam tuk baringkan lelahku
Ditepi sore saat kegilaan materi memojokan semua nuraniku
Sang Pemberontak
Langganan:
Postingan (Atom)
