Rabu, 02 September 2009

Jam 3 Pagi


Langit gelap berhias bintang-bintang, tak terasa begitu panjang waktu yang telah kulalui dengan senyap dan dingin. Tanpa sebuah keinginan untuk bersama, hingga aku sendiri bertanya, benarkah aku telah membatu ? aku lelah, letih, dan penat. Kalau ada percepatan waktu mungkin aku meminta kepada-Nya untuk mempercepat waktu ini ataupun mengembalikan waktu hingga aku dapat menjadi lebih baik daripada sekarang. Kongkrit inilah penyesalan yang membingungkan. Kalau memang waktu dapat kembali tentu aku tidak akan pernah melepaskan semua kesempatan yang pernah datang kepadaku. Kalau waktu dapat dipercepat, tentu aku menginginkan dapat berbuat lebih besar dan segera saja berakhir dengan lebih baik pada ujung waktu aku.

Langit gelap mulai berona jingga dan aku belum bisa picingkan mata ini, padahal beberapa jam lagi aktivitas kepenatan itu musti dilakukan lagi, begitu membosankan. Bagaimana caranya untuk membuat kepenatan ini mejadi lebih berarti ? jawabannya hanya dengan menyibukan diri dengan pikiran untuk bahagiakan orang lain, ya hanya untuk membahagiakan orang lain. Mungkin ini akan menjadi penyesalan bila tidak mendapat penghargaan dari orang-orang yang kita bahagiakan, tapi bukan apa-apa karena toh kematian adalah hadiah dari upaya untuk membahagiakan orang lain, toh lahir juga tanpa apa-apa kan ?

Absurd, membingungkan dan tidak realistis, tapi aku suka karena hanya dengan inilah aku akan membunuh waktu, seperti malam walaupun gelap asal ada bintang-bintang akan membuat manusia mengerti begitu indahnya malam.


Selasa, 25 Agustus 2009

ngantuk karena kopi...

Malam semakin larut manakala migran kiriku mulai kambuh, sayup dan samar ku dengar resah hati dilantunkan damainya ayat-ayat suci sementara ku tengadahkan muka ini menatap langit hitam yang bertabur bintang gemintang dan disatu sisi sebelah utara kulihat bintang bersabut kabut. luar biasa
Dalam gelap kulihat jelas cahaya dan terdengar suara sayup nurani, bagaimana mungkin ini terjadi manakala musti gelap terjadi dahulu ? Migranku masih saja mengelayut, mungkin kopi bisa menyegarkan, seperti langit yang berhias bintang gemintang, seperti kopi yang pekat dengan sedikit gula akan membuat bahagia lambung dan jantungku. Kuhirup aromanya, kutiupkan co2 ku dan ku "seruput" dan kurasakan adrenalinku mulai bergerak naik membuka ruas-ruas pembuluh darahku.....dan hilanglah migranku dalam khusuk renungku memandang bintang gemintang malam ini, tuk rindukan jiwa merdeka...dan ngantuk.

Minggu, 10 Mei 2009

Kisah Seorang Ibu

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”,jawab ibu itu.” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu??Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “
Apakah kamu mau tahu jawabannya??????…

….Dengan tersenyum ibu itu menjawab,” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
Note :
Pelajaran Hari Ini : Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN”